Purworejo, 20 Agustus 2026 – Aksi Camat Bagelen, Kabupaten Purworejo, Iman Tjiptadi, menjadi perhatian setelah berhasil mengevakuasi seekor king cobra sepanjang sekitar 3 meter yang masuk ke rumah warga. Ular berbisa tersebut ditemukan di rumah Mita Safitri, warga Desa Wangunrejo, Kecamatan Banyuurip, Purworejo, pada Selasa sore, 18 Agustus 2026. Proses evakuasi dilakukan setelah petugas pemadam kebakaran meminta bantuan kepada Iman untuk menangani ular yang dinilai berbahaya tersebut. Keberadaan king cobra di sekitar rumah warga sempat membuat khawatir karena ukurannya cukup besar dan memiliki bisa yang dapat membahayakan manusia. Iman kemudian datang ke lokasi dan ikut menangani proses evakuasi bersama petugas pemadam kebakaran.
Peristiwa bermula ketika pemilik rumah sedang melakukan kegiatan bersih-bersih di sekitar kediamannya. Saat membersihkan area tersebut, pemilik rumah menemukan selongsong atau kulit ular yang membuatnya curiga masih terdapat ular di sekitar lokasi. Pemeriksaan kemudian dilakukan lebih lanjut untuk mencari keberadaan reptil tersebut. Kecurigaan itu akhirnya terbukti setelah ular king cobra berukuran besar ditemukan bersembunyi di bawah tumpukan batu bata bekas kandang burung yang berada di samping rumah. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada petugas agar ular dapat dievakuasi dengan aman dan tidak membahayakan penghuni rumah.
Petugas Damkar Pos Purwodadi kemudian menangani laporan tersebut dan meminta bantuan Iman Tjiptadi. Permintaan bantuan dilakukan karena jenis ular yang ditemukan merupakan king cobra yang memiliki risiko tinggi apabila proses evakuasi dilakukan tanpa penanganan yang tepat. Iman mengaku mendapatkan panggilan dari petugas menjelang Magrib setelah dirinya sudah berada di rumah. Setelah menerima informasi tersebut, ia langsung menuju lokasi untuk membantu proses evakuasi. Keputusan meminta bantuan Iman dilakukan dengan pertimbangan pengalaman dan kemampuannya dalam menangani satwa, khususnya ular yang memiliki tingkat bahaya tinggi.
Iman sendiri diketahui bukan orang yang asing dengan aktivitas penyelamatan satwa. Selain menjabat sebagai Camat Bagelen, ia dikenal sebagai pencinta satwa dan aktif sebagai Koordinator Exalos Indonesia Regional Purworejo. Pengalaman tersebut membuatnya memiliki pengetahuan dalam menghadapi berbagai jenis ular dan memahami bahwa king cobra membutuhkan penanganan secara hati-hati. Dalam proses evakuasi, kesalahan gerakan dapat membuat ular merasa terancam dan melakukan perlawanan. Karena itu, proses penangkapan harus dilakukan dengan mempertimbangkan posisi ular, ruang geraknya, serta keselamatan orang-orang yang berada di sekitar lokasi.
Dalam video proses evakuasi yang beredar, Iman terlihat mengenakan celana loreng ketika berusaha mengeluarkan ular dari tempat persembunyiannya. Ia tidak bekerja seorang diri karena proses tersebut dilakukan bersama dua petugas Damkar. Iman tampak menggunakan stik pada kedua tangannya untuk membantu mengendalikan posisi ular. Sementara itu, sebuah senter terlihat berada di mulutnya untuk membantu penerangan ketika melakukan penanganan. Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana proses evakuasi dilakukan secara hati-hati karena ular berada di antara tumpukan batu bata yang menjadi tempat persembunyiannya.
King cobra tersebut ditemukan berada di area yang sangat dekat dengan rumah warga. Kondisi itu membuat evakuasi menjadi semakin penting karena keberadaan ular berbisa berukuran besar dapat membahayakan penghuni rumah apabila keluar dari tempat persembunyiannya. Terlebih, ular ditemukan di area yang sebelumnya digunakan sebagai kandang burung dan kemudian dipenuhi tumpukan batu bata. Ruang yang sempit membuat petugas harus memperhatikan setiap gerakan ular selama proses penanganan. Apabila ular bergerak menuju bagian rumah atau lingkungan sekitar, risiko pertemuan dengan warga dapat semakin besar.
Kemunculan ular di sekitar permukiman bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak biasa, terutama ketika kondisi lingkungan menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan. Tumpukan material seperti batu bata, kayu, barang bekas, atau semak yang tidak terawat dapat menjadi tempat persembunyian bagi berbagai jenis reptil. Dalam kasus ini, king cobra diketahui bersembunyi di bawah tumpukan batu bata bekas kandang burung. Temuan tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat untuk memperhatikan kondisi lingkungan sekitar rumah dan tidak membiarkan tumpukan barang menjadi tempat persembunyian satwa liar. Pemeriksaan secara berkala juga dapat membantu warga mengetahui lebih cepat apabila terdapat tanda-tanda keberadaan ular.
King cobra merupakan salah satu jenis ular berbisa yang perlu diwaspadai. Ular ini dapat menunjukkan perilaku defensif ketika merasa terancam sehingga masyarakat tidak disarankan mencoba menangkapnya sendiri apabila menemukannya di sekitar rumah. Tindakan spontan justru dapat meningkatkan risiko gigitan atau serangan. Masyarakat yang menemukan ular berbahaya sebaiknya menjaga jarak, menjauhkan anak-anak dan hewan peliharaan dari lokasi, kemudian meminta bantuan petugas yang memiliki kemampuan untuk melakukan evakuasi. Cara tersebut jauh lebih aman dibandingkan mencoba memindahkan ular menggunakan peralatan seadanya.
Keberanian Iman dalam membantu evakuasi juga menunjukkan pentingnya kemampuan petugas daerah dalam menghadapi persoalan yang tidak selalu berkaitan langsung dengan administrasi pemerintahan. Kehadiran pejabat wilayah di tengah masyarakat dapat membantu mempercepat koordinasi ketika terjadi situasi yang membutuhkan penanganan segera. Dalam kasus tersebut, petugas Damkar tetap menjadi bagian utama dalam proses evakuasi, sementara Iman memberikan bantuan berdasarkan pengalaman yang dimilikinya dalam menangani satwa. Kerja sama tersebut membuat proses penanganan dapat dilakukan dengan lebih terkoordinasi. Warga yang sebelumnya khawatir dengan keberadaan king cobra akhirnya dapat merasa lebih aman setelah ular berhasil dievakuasi.
Peristiwa king cobra masuk rumah warga di Desa Wangunrejo juga menjadi perhatian karena ukuran ular mencapai sekitar 3 meter. Ular dengan ukuran tersebut tentu membutuhkan penanganan yang lebih serius dibandingkan ular berukuran kecil karena memiliki kemampuan bergerak dan bertahan yang lebih besar. Proses evakuasi tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena keselamatan petugas dan warga harus menjadi prioritas. Penempatan posisi petugas, penggunaan alat bantu, serta penerangan menjadi bagian penting selama proses berlangsung. Dengan penanganan yang tepat, ular dapat dikeluarkan dari lingkungan permukiman tanpa menimbulkan korban.
Bagi warga yang menemukan ular serupa, pengalaman di Purworejo tersebut dapat menjadi pelajaran bahwa penanganan satwa liar membutuhkan keahlian dan kehati-hatian. Jangan mencoba mendekati atau memegang ular hanya karena ingin memastikan jenisnya secara langsung. Jika ular bersembunyi di dalam tumpukan barang, warga sebaiknya tidak membongkar tempat persembunyian tersebut secara paksa. Area sekitar dapat dikosongkan terlebih dahulu sambil menunggu petugas yang memiliki kemampuan melakukan evakuasi. Langkah sederhana tersebut dapat mengurangi risiko ular merasa terancam dan menyerang orang yang berada terlalu dekat.
Aksi Camat Bagelen Iman Tjiptadi yang ikut menangkap king cobra sepanjang 3 meter di rumah warga akhirnya berhasil mengamankan situasi. Ular tersebut ditemukan setelah pemilik rumah melihat selongsong kulit ular ketika sedang membersihkan area sekitar kediamannya. Setelah diperiksa, king cobra ternyata bersembunyi di bawah tumpukan batu bata bekas kandang burung di samping rumah. Petugas Damkar kemudian meminta bantuan Iman karena ular tersebut tergolong berbahaya dan membutuhkan penanganan cermat. Proses evakuasi dilakukan bersama petugas Damkar hingga ular berhasil dikeluarkan dari lingkungan rumah warga, sementara kejadian tersebut menjadi pengingat pentingnya tidak menangani ular berbisa secara sembarangan.







